FORCASI — Inovasi Camat XIV Koto: “Genting Tenan” Gerakan Kolaboratif Atasi Stunting di Mukomuko
Mukomuko, Bengkulu — Camat Singgih Pramono dari Kecamatan XIV Koto memperkenalkan sebuah inovasi kolaboratif bernama “Genting Tenan”, yang menjadi tonggak baru dalam upaya penanganan stunting di wilayahnya. Inisiatif ini tidak hanya melibatkan aparat pemerintahan, tetapi juga masyarakat, tenaga medis, PKK, posyandu, dan sektor swasta.
Latar Belakang dan Isu Stunting di XIV Koto
Stunting atau pertumbuhan terhambat pada anak menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang serius. Di banyak kecamatan, termasuk XIV Koto, beban penanganan stunting tidak bisa hanya ditanggung oleh pemerintah desa atau kecamatan secara sendiri. Camat Singgih Pramono menyadari bahwa agar penanganan stunting efektif dan berkelanjutan, perlu kolaborasi dari berbagai elemen masyarakat.
Apa Itu “Genting Tenan”?
“Genting Tenan” adalah gerakan terpadu yang dicanangkan oleh Pemerintah Kecamatan XIV Koto untuk membentuk struktur kolaboratif dalam penanggulangan stunting. Mekanisme utamanya meliputi:
-
Bapak Asuh Stunting: Camat mengajak berbagai pihak sebagai “bapak angkat” untuk anak yang berisiko stunting. Ini termasuk tenaga medis, kader posyandu, PKK, tokoh masyarakat, dan pihak swasta.
-
Intervensi Edukasi Berkelanjutan: Genting Tenan memberikan edukasi gizi dan kesehatan secara berkala untuk keluarga berisiko, agar pemahaman stunting dan faktor-faktornya meningkat.
-
Keterlibatan Masyarakat secara Aktif: Gerakan ini mendorong keterlibatan desa dan masyarakat lokal melalui posyandu, kader, dan pertemuan komunitas untuk memantau dan menindaklanjuti kasus stunting.
-
Kolaborasi Pemerintah Daerah: Inovasi ini mendapat dukungan dari Pemkab Mukomuko. Asisten I Setda Mukomuko, Haryanto, menyatakan apresiasi sekaligus mengajak semua pihak untuk bergerak bersama menuntaskan stunting di kecamatan tersebut.
Makna Strategis dan Dampak Positif
Inovasi Genting Tenan mengandung nilai strategis tinggi dan potensi dampak besar:
-
Responsibilitas Bersama
Penanganan stunting tidak lagi menjadi beban eksklusif pemerintah kecamatan atau desa, melainkan menjadi misi bersama masyarakat dan institusi. Ini memperkuat rasa kepemilikan kolektif terhadap solusi kesehatan. -
Efektivitas Intervensi
Intervensi yang dilakukan “di lapangan” melalui edukasi dan pemantauan langsung memungkinkan dampak nyata, karena data dan kebutuhan berasal dari komunitas. -
Pemberdayaan Kader Lokal
Dengan melibatkan PKK, posyandu, dan tenaga medis lokal sebagai bagian dari gerakan, Genting Tenan memperkuat kapasitas komunitas dalam melakukan pencegahan stunting ke depan. -
Dukungan Pemerintah yang Solid
Dukungan Pemkab Mukomuko menunjukkan bahwa inovasi ini tidak sekadar program jangka pendek, tetapi bagian dari strategi pembangunan kesehatan jangka menengah dan panjang.
Tantangan & Rekomendasi Ke Depan
Namun demikian, beberapa tantangan dan catatan penting harus diperhatikan agar inovasi ini semakin efektif dan berkelanjutan:
-
Sistem Monitoring & Evaluasi: Dibutuhkan mekanisme pemantauan yang jelas untuk mengukur efektivitas “bapak angkat” dan intervensi gizi secara berkala.
-
Dukungan Anggaran: Agar gerakan ini dapat berjalan rutin dan masif, kecamatan perlu mengalokasikan dana operasional serta menciptakan skema pendanaan berkelanjutan (misalnya melalui CSR atau donatur lokal).
-
Sosialisasi dan Keterlibatan Komunitas: Agar semua lapisan masyarakat ikut serta, sosialisasi terkait Genting Tenan perlu terus-menerus, terutama di desa-desa, agar komunitas memahami peran dan manfaatnya.
-
Pelatihan Kader: Kader posyandu dan tenaga lokal lainnya perlu dilatih intensif agar mampu menjalankan peran sebagai pemantau dan pendidik gizi dengan baik.
Relevansi Bagi FORCASI dan Camat Seluruh Indonesia
Bagi FORCASI, inovasi Genting Tenan oleh Camat Singgih Pramono menjadi teladan penting:
-
Menunjukkan bahwa kepemimpinan camat bisa lebih dari administratif — camat bisa menjadi katalisator perubahan sosial dan kesehatan.
-
Menegaskan bahwa penanganan stunting harus berbasis komunitas, kolaboratif, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
-
Memberikan model yang bisa diadopsi oleh camat lain di wilayah yang menghadapi masalah stunting: pembentukan “bapak angkat” stunting, edukasi gizi lokal, dan sinergi pemerintah-masyarakat.
Penutup
Inovasi Genting Tenan oleh Camat XIV Koto, Singgih Pramono, adalah bukti bahwa tindakan lokal yang kolaboratif bisa menjadi strategi ampuh dalam mengatasi persoalan kesehatan fundamental seperti stunting. Dengan melibatkan berbagai stakeholder, pemerintah kecamatan menegaskan komitmen bahwa penurunan stunting adalah tanggung jawab bersama — bukan beban sendiri.
FORCASI mengapresiasi langkah visioner ini dan mendukung agar camat-camat di Indonesia meneladani model kepemimpinan yang humanis, kolaboratif, dan berfokus pada kesejahteraan generasi masa depan.









