FORUM CAMAT SELURUH INDONESIA

Membangun Sinergi Komunikasi Koordinasi Dalam Mengemban Tugas Kepamongprajaan Sebagai Abdi Negara dan Masyarakat

Artikel

KETOG SEMPRONG Gerakan Orang Tua Asuh untuk Cegah Stunting

“KETOG SEMPRONG: Gerakan Orang Tua Asuh untuk Cegah Stunting

Latar Belakang

Masalah stunting masih menjadi perhatian penting di Indonesia — bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga masalah pembangunan manusia yang berdampak jangka panjang. Di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, pemerintah daerah telah memperkuat komitmen melalui program-gerakan yang bersinergi antara aparatur kecamatan, desa, masyarakat, dan generasi muda. 

Di tengah upaya tersebut, Kecamatan Susut meluncurkan sebuah inovasi yang menarik: KETOG SEMPRONG, yang digagas oleh I Dewa Putu Apriyanta (Camat Susut, SSTP., M.Si) bersama jajarannya, melalui program pelibatan generasi muda sebagai “orang tua asuh” keluarga berisiko stunting. 

Apa Itu KETOG SEMPRONG dan GENTING?

  • KETOG SEMPRONG adalah singkatan dari Kerahkan STT/Yowana sebagai OTA (Orang Tua Asuh). STT = Siswa/Taruna/Tim, Yowana = generasi muda; OTA = orang tua asuh.

  • Program ini kemudian juga menggunakan istilah GENTING = Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Inovasi ini mengajak generasi muda (pelajar, pemuda desa) untuk menjadi pendamping aktif keluarga yang berisiko stunting di wilayah kecamatan tersebut. 

  • Aktivitas yang dilakukan meliputi pendampingan keluarga, pengawasan tumbuh-kembang anak, edukasi gizi dan perilaku hidup sehat, koordinasi lintas sektor di desa/kecamatan, serta sinergi dengan posyandu dan kader kesehatan.

Tujuan dan Nilai Strategis

Inovasi ini memiliki beberapa tujuan utama:

  • Meningkatkan kesadaran generasi muda untuk aktif dalam pembangunan sosial dan kesehatan di desa. (nilai kepedulian) 

  • Menumbuhkan peran generasi muda sebagai penggerak perubahan di tingkat kecamatan/desa, khususnya dalam upaya percepatan penurunan stunting.

  • Memperkuat sinergi antara aparatur kecamatan, perangkat desa, kader posyandu, dan pemuda agar intervensi stunting lebih cepat, tepat dan tersegmentasi.

  • Mengaktifkan sistem “orang tua asuh” sebagai mekanisme informal namun sistematis untuk mendampingi keluarga yang anaknya berisiko stunting — sehingga tidak hanya bergantung pada program pemerintah semata tetapi melibatkan community based.

Pelaksanaan di Lapangan

Beberapa langkah kunci pelaksanaan yang tercatat:

  • Pada tanggal 30 September 2025, Kecamatan Susut melaksanakan acara launching program KETOG SEMPRONG dan Gerakan OTA GENTING, bersamaan dengan kegiatan Rembuk Stunting di wilayah kecamatan. Generasi muda dari organisasi Yowana/STT di kecamatan diajak untuk menjadi orang tua asuh, diwajibkan melakukan pendampingan ke keluarga sasaran.

  • Kegiatan sosialisasi dan edukasi dilakukan melalui posyandu, kader kesehatan desa, serta melalui jaringan sekolah dan komunitas pemuda.

  • Monitoring dan evaluasi dilakukan melalui data keluarga risiko stunting, laporan pendampingan oleh OTA, serta sinergi dengan dinas/kesehatan kabupaten.

Dampak dan Implikasi untuk Camat & Bagi FORCASI

Bagi FORCASI dan para Camat di seluruh Indonesia, inovasi KETOG SEMPRONG/GENTING di Susut memberikan beberapa pelajaran penting:

  1. Kecamatan sebagai wahana inovasi sosial-kesehatan — bukan hanya berfokus pada administrasi pemerintahan tetapi juga pembangunan SDM lokal melalui program kemasyarakatan.

  2. Pelibatan pemuda sebagai aset pembangunan — Camat Susut menunjukkan bahwa generasi muda bisa menjadi mitra strategis dalam upaya percepatan penurunan stunting.

  3. Model “orang tua asuh” sebagai mekanisme yang dapat diadaptasi oleh kecamatan lain: melibatkan masyarakat, berbasis komunitas, dengan pendekatan pendampingan langsung, bukan hanya kampanye top-down.

  4. Sinergi lintas sektor – desa - kecamatan – kabupaten penting untuk memastikan program berjalan efektif dan mampu memberikan hasil nyata.

  5. Konteks lokal yang relevan — Inovasi ini menyesuaikan dengan karakter wilayah Bali/Bangli (budaya gotong-royong, Yowana/pemuda), yang memperkuat keberlanjutan program. Camat lain dapat menyesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing wilayah.

Tantangan & Catatan Penting

Walaupun inovasi ini menjanjikan, beberapa tantangan perlu diperhatikan agar keberlanjutannya kuat:

  • Ketersediaan data sasaran keluarga berisiko stunting yang akurat di tingkat desa dan kecamatan.

  • Keterlibatan dan pelatihan pemuda/orang tua asuh agar dapat menjalankan pendampingan dengan baik dan tidak sekadar simbolik.

  • Alokasi sumber daya (waktu, monitoring, dana) dari kecamatan/desa untuk mendukung aktivitas pendampingan.

  • Sistem pelaporan dan evaluasi yang rapi agar program dapat dikembangkan dan digeneralisasi ke kecamatan lain.

  • Adaptasi model ke berbagai wilayah lain dengan karakteristik berbeda (misalnya non-Bali) sehingga prinsipnya relevan namun fleksibel.

Penutup

Inovasi KETOG SEMPRONG / Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting yang dilaksanakan oleh Camat Susut menjadi contoh inspiratif bagi Camat di seluruh Indonesia. Dengan menitikberatkan pada pemberdayaan generasi muda, pendampingan komunitas, dan sinergi lokal, kecamatan ini menunjukkan bahwa aksi nyata di tingkat akar rumput mampu memberikan kontribusi pada pencapaian target pembangunan manusia.

Bagi FORCASI, inovasi ini bisa dijadikan best practice yang disebarkan di seluruh jaringan Camat untuk memperkuat pelayanan publik dan pembangunan SDM lokal — karena ketika kecamatan berdaya, pelayanan publik semakin dekat, dan generasi kita semakin sehat.